Sebanyak 1430 item atau buku ditemukan

Mengenal Kapitalisme dan Bagaimana Mengalahkannya

Tulisan dalam buku ini membahas apa itu kapitalisme, tetapi dengan penekanan yang berbeda. Tulisan pertama Gérard Duménil dan Duncan Foley lebih berfokus pada aspek eko- nomi dari kapitalisme. Mereka merangkum teori Marx tentang cara produksi kapitalis, seperti yang dipaparkannya dalam tiga jilid Kapital. Tulisan itu mulai dari menempatkan cara produksi kapitalis sebagai satu epos tertentu dalam sejarah manusia, kemu- dian masuk ke dalam definisi kapital sebagai nilai yang mengeks- pansi dirinya sendiri, baru membahas berbagai macam proses dan entitas yang terkait dengannya, seperti proses sirkulasi, komoditas, uang, dan sebagainya. Dalam pembahasannya, kapitalisme tampil sebagai sebuah struktur dengan kecenderungan ini dan itu di dalamnya. Dan tulisan oleh Michael A. Lebowitz juga membahas aspek- aspek struktural dari kapitalisme, tetapi penekanannya adalah pada aktor yang bertarung dalam kapitalisme, yaitu kapital dan kelas pekerja. Kapital di sini tampil sebagai aktor yang punya kepentingan mengakumulasi dirinya dan berusaha secara aktif menun- dukkan lawannya yang punya kepentingan yang bertentangan dengannya, yaitu kelas pekerja dengan kepentingan kemaslaha- tannya. Perjuangan kelas, dengan demikian, adalah sesuatu yang inheren dalam kapitalisme. Dalam tulisannya, Lebowitz tidak ha- nya membahas cara kerja kapital secara ekonomi, tapi juga membahas cara kapital menundukkan kelas pekerja secara politik, seperti dengan memakai negara dan memecah-belah kelas pekerja.

Dalam tulisannya, Lebowitz tidak ha- nya membahas cara kerja kapital secara ekonomi, tapi juga membahas cara kapital menundukkan kelas pekerja secara politik, seperti dengan memakai negara dan memecah-belah kelas pekerja.

Alquran dan Ekonomi Integrasi Ilmu Ekonomi dan Keislaman yang Bersumber dari Alquran dan Hadis

Buku kategori Islam dan Ilmu Ekonomi yang berjudul Alquran dan Ekonomi Integrasi Ilmu Ekonomi dan Keislaman yang Bersumber dari Alquran dan Hadis merupakan karya dari Dr. H. Effendi Sadly, S.E., M.A., dkk. Buku ini dirancang untuk menjadi panduan yang komprehensif bagi peneliti, mahasiswa, dan praktisi ekonomi yang tertarik untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan nilai-nilai Al-Quran dalam pemikiran dan praktik ekonomi kontemporer. Dalam buku ini, disajikan pemahaman yang kaya dan komprehensif tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip ekonomi yang ditemukan dalam Al-Quran dan hadis.

Buku kategori Islam dan Ilmu Ekonomi yang berjudul Alquran dan Ekonomi Integrasi Ilmu Ekonomi dan Keislaman yang Bersumber dari Alquran dan Hadis merupakan karya dari Dr. H. Effendi Sadly, S.E., M.A., dkk.

Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X: Periode Awal Islam hingga Masa Khulafaur Rasyidin

Buku ini terbagi dalam dua bagian yang mencakup periode awal perkembangan Islam hingga masa Khulafaur Rasyidin dan Daulah Umayyah. Bagian 1 dimulai dengan pembahasan tentang kondisi masyarakat Makkah sebelum Islam, menyoroti aspek geografis, sosial, budaya, dan kepercayaan bangsa Arab pra-Islam. Selanjutnya, dikaji strategi dakwah Nabi Muhammad SAW pada periode Makkah dan Madinah, termasuk pendekatan diplomatis, spiritual, dan sosial. Semester ini ditutup dengan kajian mengenai penaklukan Kota Makkah sebagai tonggak penting penyebaran Islam secara damai dan beradab. Bagian 2 memfokuskan pada perkembangan Islam masa Khulafaur Rasyidin, mencakup kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta ekspansi wilayah Islam dan tantangan internal seperti kemurtadan dan konflik politik. Materi ditutup dengan peradaban Islam pada masa Daulah Umayyah di Damaskus, membahas sistem pemerintahan, penyebaran Islam, serta faktor-faktor kemunduran dinasti tersebut. Setiap bab dilengkapi dengan tujuan pembelajaran, penjelasan materi yang komprehensif, latihan soal, uji kompetensi, dan latihan penilaian tengah/akhir semester, menjadikan buku ini sebagai media pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong pemikiran kritis, reflektif, dan aplikatif pada peserta didik.

Buku ini terbagi dalam dua bagian yang mencakup periode awal perkembangan Islam hingga masa Khulafaur Rasyidin dan Daulah Umayyah.

Astronom muslim

sepanjang sejarah peradaban islam

Buku ini berisi potret 25 tokoh astronomi dalam islam, di dalamnya dikemukakan biografi intelektual, karya, pemikiran, sumbangan dan pengaruhnya bagi dunia barat. Tokoh-tokoh dalam buku ini dapat dimunculkan adalah karena karya dan pemikiran mereka sampai dan tersedia untuk hari ini, sementara lainnya tidak atau belum terungkap

Buku ini berisi potret 25 tokoh astronomi dalam islam, di dalamnya dikemukakan biografi intelektual, karya, pemikiran, sumbangan dan pengaruhnya bagi dunia barat.

Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Untuk kepentingan pengembangan perangkat pembelajaran MKI di Universitas Ahmad Dahlan, LPP telah menyusun program bahwa setiap MKI memiliki buku ajar yang ditulis para dosen pengampunya. Buku ajar yang ditulis dosen Universitas Ahmad Dahlan memiliki keuntungan, karena ditulis berdasarkan pengalaman pembelajaran yang telah dilaksanakan, sekaligus menjawab kebutuhan di masa yang akan datang, yang didasarkan pada lingkungan terdekat mahasiswanya. Buku Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang hadir di hadapan pembaca ini, memiliki nilai penting bagi pemenuhan sumber belajar mahasiswa, sekaligus sebagai upaya mengokohkan nation and character building mahasiswa.

Buku Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang hadir di hadapan pembaca ini, memiliki nilai penting bagi pemenuhan sumber belajar mahasiswa, sekaligus sebagai upaya mengokohkan nation and character building mahasiswa.

DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA

Demokrasi, jika ditelusuri dari sisi etimologis merupakan dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu, demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sementara dari sisi terminologis, terdapat beberapa pendapat pakar yang mendefinisikan demokrasi tersebut. Josefh A. Schmeter, mendefinisikan demokrasi dengan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sidney Hook. Menurutnya, demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa. Dengan kata lain, bahwa demokrasi meniscayakan adanya kekuasaan pemerintahan berada di tangan rakyat yang secara substansial mengandung 3 (tiga) hal, yakni pemerintah dari rakyat (government of the people), pemerintahan oleh rakyat (government by the people) dan pemerintahan untuk rakyat (government for the people). Pemerintahan dari rakyat berhubungan dengan legitimasi pemerintahan (legitimate government) dan tidak legitimasi suatu pemerintahan (unligitimate government) di mata rakyat. Legitimasi pemerintahan berarti suatu pemerintahan yang mendapat pengakuan dan dukungan yang diberikan oleh rakyat. Sebaliknya tidak legitimasinya pemerintahan berarti suatu pemerintahan yang sedang memegang kendali kekuasaan tidak mendapat pengakuan dan dukungan dari rakyat. Legitimasi dalam konteks demokrasi bagi suatu pemerintahan sangat penting karena pemerintah dapat menjalankan roda dan program pemerintahan sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah. Lain halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Schumpeter. Menurutnya demokrasi merupakan konsep yang bisa disederhanakan menjadi sebuah metode politik. Baginya, demokrasi adalah kemampuan warga negara untuk dapat menentukan pemimpin berdasarkan atas pilihannya. Berbeda dengan Schumpeter, David Held mendefinisikan demokrasi lebih komprehensif tidak sebatas dimaknai sebagai metode politik. Held lebih melihat demokrasi sebagai sebuah prinsip dasar otonomi. Prinsip dasar otonomi itulah yang kemudian disebut dengan otonomi demokrasi (democratic autonomy)

Demokrasi, jika ditelusuri dari sisi etimologis merupakan dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu, demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan ...

Pancasila Dasar Negara Paripurna

Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, menunjukkan bahwa para pendiri negara kita dengan sangat cemerlang mampu menyepakati pilihan yang pas tentang dasar negara sesuai dengan karakter bangsa, sangat orisinal, menjadi sebuah Negara modern yang berkarakter religius, tidak sebagai negara sekuler juga tidak sebagai negara agama. Rumusan konsepsinya benar-benar diorientasikan pada dan sesuai dengan karakter bangsa. Mereka bukan hanya mampu menyingkirkan pengaruh gagasan negara patrimonial yang mewarnai sepanjang sejarah nusantara prakolonial, namun juga mampu meramu berbagai pemikiran politik yang berkembang saat itu secara kreatif sesuai dengan kebutuhan masa depan modern anak bangsa (Ali, 2010). Pancasila adalah warisan dari jenius Nusantara.Sesuai dengan karakteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau (archipelago), jenius Nusantara juga merefleksikan sifat lautan.Sifat lautan adalah menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungannya.Sifat lautan juga dalam keluasannya, mampu menampung segala keragaman jenis dan ukuran (Latief, 2011). Pancasila sangat dikagumi oleh tokoh-tokoh di luar negeri. Yaman ketika baru saja lepas dari bentuk monarki, para pemimpin muda Yaman menjadikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai pembanding sebelum menentukan dasar negara mereka. Begitu pula Dr. Izzat Mufti, seorang intelektual dan pejabat tinggi Arab Saudi sangat memuji Pancasila.Ia menyatakan, “Pancasila telah menjadi bingkai persatuan bangsa Indonesia. Berbeda dengan bangsa Arab, meskipun mempunyai kesamaan budaya dan bahasa tetapi terkotak-kotak lebih dari 20 negara” (Ali, 2009: xi-xii). Mufti Syria, Syekh Ahmad Kaftaru sangat mengagumi Pancasila. Dalam ceramahnya di Damaskus pada pertengahan 1987, ia menyatakan kagum terhadap Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa penduduk Indonesia berperilaku sangat santun dan bersahaja, murah senyum, memberi hormat kepada orang yang baru dikenal dengan membungkukkan badan, terkenal toleran dan terpancar kesabaran serta tutur bicara yang halus. Ia merasa malu dengan dunia Arab yang tercerai berai dan saling bermusuhan. Seharusnya orang Arab memberi contoh kepada orang ajam (non-Arab), karena telah lebih dahulu mengenal budaya Islam.Namun sayang, di era reformasi, Pancasila yang saya kagumi dipersoalkan oleh sejumlah anak bangsa. Saat terjadi krisis yang mengakibatkan keterpurukan di hampir semua kehidupan, Pancasila dijadikan kambing hitam (Ali, 2009: xiv). Buku ini menguraikan sejak awal Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara, Pancasila di awal kemerdekaan, Pancasila di era Soekarno, Pancasila di era Soeharto, Pancasila di era Reformasi, dan disempurnakan dengan makna Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia. Buku persembahan penerbit PrenadaMediaGroup

Begitu pula Dr. Izzat Mufti, seorang intelektual dan pejabat tinggi Arab Saudi sangat memuji Pancasila.Ia menyatakan, “Pancasila telah menjadi bingkai persatuan bangsa Indonesia.

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Munculnya pendidikan kewarganegaraan di latar belakangi oleh semangat para pahlawan dan perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan mental spiritual telah melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam masa perjuangan fisik. Sedangkan dalam menghadapi globalisasi untuk mengisi kemerdekaan kita memerlukan perjuangan non fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing yang dilandasi oleh nilai-nilai perjuangan bangsa sehingga kita tetap memiliki wawasan dan kesadaran bernegara, sikap dan prilaku yang cinta tanah air dan mengutamakan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia dan keutuhan NKRI. Pendidikan Kewarganegaraan mengalami berbagai macam perubahan di dalam perkembangannya. Di mana perubahan yang dilakukan tersebut bertujuan untuk memperbaiki isi dari Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri. Pada mulanya istilah Pendidikan Kewiraan merupakan istilah yang digunakan sebelum memakai istilah pendidikan kewaraganegaraan. Pendidikan kewarganegaraan atau PKN secara umum merupakan bentuk pendidikan yang mengingatkan akan pentingnya nilai-nilai hak dan kewajiban warga negara supaya mereka menjadi warga negara yang berpikir tajam dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Pendidikan Kewarganegaraan mengalami berbagai macam perubahan di dalam perkembangannya. Di mana perubahan yang dilakukan tersebut bertujuan untuk memperbaiki isi dari Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri.

Dār al-Islām Revisited

Territoriality in Contemporary Islamic Legal Discourse on Muslims in the West

Where is dār al-islām, and who defines its boundaries in the 21st century? In Dār al-Islām Revisited. Territoriality in Contemporary Islamic Legal Discourse on Muslims in the West, Sarah Albrecht explores the variety of ways in which contemporary Sunni Muslim scholars, intellectuals, and activists reinterpret the Islamic legal tradition of dividing the world into dār al-islām, the “territory of Islam,” dār al-ḥarb, the “territory of war,” and other geo-religious categories. Starting with an overview of the rich history of debate about this tradition, this book traces how and why territorial boundaries have remained a matter of controversy until today. It shows that they play a crucial role in current discussions of religious authority, identity, and the interpretation of the shariʿa in the West.

Starting with an overview of the rich history of debate about this tradition, this book traces how and why territorial boundaries have remained a matter of controversy until today.

Islam Dot Com

Contemporary Islamic Discourses in Cyberspace

This book analyzes the discourses and deliberations in the discussion forums of three of the most visited Islamic websites and investigates the extent to which they have provided a venue for Muslims to freely engage in discussion among themselves and with non-Muslims about political, economic, religious and social issues.

This book analyzes the discourses and deliberations in the discussion forums of three of the most visited Islamic websites and investigates the extent to which they have provided a venue for Muslims to freely engage in discussion among ...