Sebanyak 3615 item atau buku ditemukan

Ekonomi Makro Islam: Teori, Kebijakan dan Aplikasi Syariah Dalam Perekonomian Modern

Ekonomi makro Islam merupakan cabang ilmu ekonomi yang mengkaji fenomena ekonomi secara agregat dengan pendekatan nilai- nilai syariah. Berbeda dengan ekonomi makro konvensional yang berfokus pada efisiensi dan pertumbuhan, ekonomi makro Islam menekankan pada keadilan distribusi, keseimbangan antara material dan spiritual, serta keberlanjutan yang sesuai dengan maqasid al- shariah (tujuan-tujuan syariah). Dalam konteks ini, ekonomi makro Islam tidak hanya mengukur keberhasilan ekonomi dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek kesejahteraan sosial, pengentasan kemiskinan, dan distribusi kekayaan yang adil. Konsep-konsep seperti zakat, infak, dan wakaf menjadi instrumen penting dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Ekonomi makro Islam merupakan cabang ilmu ekonomi yang mengkaji fenomena ekonomi secara agregat dengan pendekatan nilai- nilai syariah.

Akuntansi Syariah

Buku ajar berjudul Akuntansi Syariah adalah buku yang membahas secara sistematis konsep, prinsip, dan penerapan akuntansi yang sesuai dengan hukum Islam. Buku ini menguraikan landasan syariah dalam akuntansi, jenis-jenis transaksi yang umum dilakukan di lembaga keuangan syariah, serta bentuk laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi syariah. Buku ini ditujukan untuk masyarakat umum, sehingga disajikan dengan bahasa sederhana dan contoh nyata yang mudah dipahami. Pembaca akan mempelajari perbedaan mendasar antara akuntansi konvensional dan akuntansi syariah, termasuk penerapan akad-akad seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, dan wakalah. Dengan penyajian yang terstruktur, buku ini menjadi panduan praktis yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami dan menerapkan akuntansi sesuai prinsip syariah, baik untuk usaha pribadi, organisasi, maupun lembaga keuangan.

Buku ajar berjudul Akuntansi Syariah adalah buku yang membahas secara sistematis konsep, prinsip, dan penerapan akuntansi yang sesuai dengan hukum Islam.

Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik (Abad VII-XIII M)

Abad ke-7 sampai ke-13 M merupakan momentum yang sangat bersejarah dalam lintasan sejarah kebudayaan dan peradaban Arab-Muslim. Islam mengalami kemajuan pesat. Hal ini ditandai dengan kekuasaan yang sangat luas serta penyatuan antarwilayah Islam. Daulah Abbasiyah di Baghdad (di belahan dunia Timur) dan Daulah Umayyah di Cordova, Andalusia/Spanyol (di belahan dunia Barat) memperlihatkan kemajuan sains, kebudayaan, dan peradaban yang sangat spektakuler. “The Golden Age of Islam” (Masa Keemasan Islam) benar-benar telah menghiasi panggung sejarah dunia pada Abad Klasik tersebut. Buku-buku ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan dan ditulis oleh para sarjana Muslim diterjemahkan secara besar-besaran ke dalam bahasa Barat-Latin. Intensitas persentuhan dan pergumulan Barat dengan peradaban Muslim pada gilirannya menggerakkan munculnya Era Renaissance di Barat pada abad ke-14 M. Era Renaissance pada gilirannya menggerakkan munculnya Era Reformasi dan Era Aufklarung (Pencerahan) pada abad ke-17 M yang kemudian mengantarkan bangsa-bangsa Barat menjadi bangsa yang sangat modern dan canggih di bidang sains dan teknologi. Robert Stephen Briffault, dalam buku terkenalnya yang berjudul The Making of Humanity mengapresiasi kontribusi besar para ilmuwan Muslim terhadap dunia modern. Briffault tanpa ragu mengatakan, “Ilmu pengetahuan adalah sumbangan peradaban Islam yang mahapenting kepada dunia modern. Utang ilmu pengetahuan kita kepada ilmu pengetahuan bangsa Arab tidak tergantung kepada penemuan-penemuan teori yang revolusioner: ilmu pengetahuan berutang besar sekali kepada kebudayaan Islam.”

Abad ke-7 sampai ke-13 M merupakan momentum yang sangat bersejarah dalam lintasan sejarah kebudayaan dan peradaban Arab-Muslim.

Sejarah Islam Asia Tenggara

Agama Islam yang disampaikan oleh Allah Swt kepada manusia melalui Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw, kini telah berusia lima belas abad yang tersebar luas dalam berbagai kawasan yaitu kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol Islam), kawasan pengaruh kebudayaan Persia, kawasan pengaruh kebudayaan Turki, kawasan pengaruh kebudayaan Islam India, kawasan Afrika Selatan, Afrika Tengah, dan kawasan Asia Tenggara Kawasan Asia Tenggara terdiri dari sebelas negara dengan ibu kotanya (1) Indonesia: Jakarta; (2) Malaysia: Kuala Lumpur; (3) Thailand: Bangkok; (4) Vietnam: Hanoi; (5) Philipina: Manila; (6) Kamboja: Phomn Phen; (7) Singapura: Singapura; (8) Myanmar: Birma; (9) Laos: Vientiane; (10), Brunei Darussalam: Bandar Sri Begawan; (11) Timor Leste: Dili Hasil kajian dalam buku Sejarah Islam Asia Tenggara ini dapat diketahui bahwa perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara tidak merata; sebagian berpenduduk Asia Tenggara mayoritas Muslim, seperti Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia, sedangkan sebagian yang lainya berpenduduk minoritas Muslim, seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, Thailand, Singapura, dan Timor Leste Kajian lain dalam buku ini diketahui bahwa agama yang pertama kali berkembang di Asia Tenggara adalah agama Budha pada masa kerajaan Melayu Sriwijaya di Sumatra sekitar abad ke-7–11 M Pengaruh kebudayaan Budha ke dalam bahasa dan budaya masyarakat Melayu begitu banyak Kemudian agama Hindu pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 dan ke-15) yang berpusat di Jawa juga punya andil besar dalam mengembangkan agama Hindu, sehingga mampu menyatukan wilayah Nusantara dalam satu kekuasaan Abad ke-13 M, mulai muncul persentuhan antara penduduk Asia Tenggara dengan pedagang Muslim Arab, Persia dan India, lalu terjadi proses Islamisasi berjalan dengan mulus, lewat beberapa saluran, antara lain, melalui pernikahan dan perdagangan, pada akhirnya lahirlah kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Raja pertama kerajaan ini adalah al-Malikul Saleh, sedang rajanya yang terkenal adalah Sulthan Iskandar Muda dan Sulthan Iskandar Tsani Maka Islam mulai berkembang di Asia Tenggara mulai abad ke-13 M tersebar ke sebagian wilayah Nusantara setelah tumbangnya Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit Kemudian, Islam menjadi kekuatan politik di Nusantara sejak memasuki pada abad ke-15 M.

Agama Islam yang disampaikan oleh Allah Swt kepada manusia melalui Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw, kini telah berusia lima belas abad yang tersebar luas dalam berbagai kawasan yaitu kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur Tengah, Afrika Utara, ...

Sejarah Peradaban Islam

Agama yang disampaikan oleh Allah Swt. kepada manusia melalui Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw., kini telah berusia lima belas abad yang tersebar luas dalam berbagai kawasan yaitu kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol Islam), kawasan pengaruh kebudayaan Persia (Islam dan Negara-negara Islam di Asia Tenggara), kawasan pengaruh kebudayaan Turki, kawasan pengaruh kebudayaan India Islam, kawasan Asia Tenggara dan kawasan Afrika Selatan dan Afrika Tengah. Tentu saja menjadi suatu keharusan bagi umat Islam, khususnya mahasiswa UIN, IAIN, dan STAIN untuk mengetahui Sejarah Peradaban Islam di berbagai kawasan tersebut di atas. Dalam buku ini, agar pembahasannya lebih terfokus akan dibatasi pada kawasan Arab, meliputi Timur Tengah, Afrika Utara dan Spanyol Islam dengan pendekatan periodisasi yaitu pada masa periode klasik dan periode pertengahan sedangkan dalam periode modern membutuhkan buku tersendiri. Maka kajian dalam buku ini dimulai membahas tentang sejarah peradaban bangsa Arab pra-Islam yang pada awalnya masih rendah kemudian Rasulullah berhasil mengangkat mereka menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi berakhlak mulia dalam rentang waktu yang relatif singkat dilanjutkan dengan usaha khulafa’ al-Rasyidin memperluas wilayah Islam ke fron utara, barat dan timur teristimewa keberhasilan Umar ibn Khattab menghancurkan kerajaan adikuasa Persia di Timur digantikan dengan negara Islam menjadi salah satu negara adikuasa di masa itu bersama dengan kerajaan Romawi di Barat.

Tentu saja menjadi suatu keharusan bagi umat Islam, khususnya mahasiswa UIN, IAIN, dan STAIN untuk mengetahui Sejarah Peradaban Islam di berbagai kawasan tersebut di atas.

TUNTUNAN PRAKTEK IBADAH

Praktik Ibadah tidak hanya bermakna sebagai bagian dari proses penyadaran fitrah kemanusiaan sebagai hamba Allah yang berkewajiban untuk komitmen terhadap ajaran Islam melalui ibadah mahdah (hablum minallah), tetapi juga sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku “susila hasanah” yang kredibel. Praktik Ibadah termasuk proses pembentukan insan kamil yang bertakwa dan beriman kepada Allah SWT, serta sebagai terapi mentalitas keagamaan, yang pada hakikatnya mencakup bimbingan dan nasihat. Tujuan tuntunan Praktik Ibadah ini adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dalam menguasai, menghayati pengetahuan ibadah, melaksanakannya, serta merefleksikan hidmah (pesan moral dan etik) ibadah ke dalam perilaku nyata dalam pergaulan sebagai al-insan (makhluk sosial), baik di dalam maupun di luar kampus. Substansinya merupakan bagian dari perwujudan tujuan Pendidikan Nasional. Dalam kerangka itu, buku “Tuntunan Praktik Ibadah” ini hadir dalam konteks mendukung peningkatan kualitas insani dalam menguasai, menghayati, melaksanakan, serta merefleksikan pesan moral dan etik ibadah ke dalam perilaku nyata dalam kehidupan sosial. Tidak hanya itu, substansinya juga menjadi bagian dari perwujudan tujuan Modernisasi Beragama. Awalnya, buku ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam memandu praktik ibadah mahasiswa S1 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, seiring dengan tugas penulis sebagai pembimbing akademik dan pembimbing praktik ibadah dari tahun 2013 sampai 2018, sebelum terjadi alih tugas. Maka, buku ini akan lebih bermakna jika diperuntukkan bagi: Jamaah Pengajian Majelis Ta’lim Al-Mishbah (Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan para Remaja) dalam memahami konsep-konsep ibadah. Para Guru Muhitsab Al-Mishbah maupun para pengajar mata kuliah PKMB (Praktik Keagamaan Mahasiswa) dalam membimbing praktik ibadah selama masa belajar. Pembaca umum lainnya yang ingin memperdalam pengetahuan tentang praktik ibadah. Dalam perwujudannya, buku ini dimulai dari Bagian Pertama: Praktik Ibadah (Sebuah Pengantar), kemudian dilanjutkan secara berturut-turut dengan bahasan: Taharah, Azan dan Iqamah, Shalat, Khutbah, Pengurusan Jenazah, Penyembelihan Hewan, Puasa, Zakat, serta sekilas tentang Haji. Selain itu, untuk kelancaran, efektivitas, dan efisiensi dalam melakukan praktik ibadah, buku ini juga dilengkapi dengan model praktik bagi peserta yang akan mengikuti praktik ibadah. Penulis berharap kehadiran buku ini dapat memberikan inspirasi dan urunan pemikiran, turut serta memajukan, mencerdaskan, dan menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan praktik ibadah. Semoga buku ini bermanfaat bagi kepentingan umat dan mendapat ridha Allah SWT. Amin. Bandung, 21 April 2019 Penulis

Praktik Ibadah tidak hanya bermakna sebagai bagian dari proses penyadaran fitrah kemanusiaan sebagai hamba Allah yang berkewajiban untuk komitmen terhadap ajaran Islam melalui ibadah mahdah (hablum minallah), tetapi juga sebagai proses ...

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK PERGURUAN TINGGI Perspektif Demokrasi Lokal

Pancasila Dasar Negara Paripurna

Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, menunjukkan bahwa para pendiri negara kita dengan sangat cemerlang mampu menyepakati pilihan yang pas tentang dasar negara sesuai dengan karakter bangsa, sangat orisinal, menjadi sebuah Negara modern yang berkarakter religius, tidak sebagai negara sekuler juga tidak sebagai negara agama. Rumusan konsepsinya benar-benar diorientasikan pada dan sesuai dengan karakter bangsa. Mereka bukan hanya mampu menyingkirkan pengaruh gagasan negara patrimonial yang mewarnai sepanjang sejarah nusantara prakolonial, namun juga mampu meramu berbagai pemikiran politik yang berkembang saat itu secara kreatif sesuai dengan kebutuhan masa depan modern anak bangsa (Ali, 2010). Pancasila adalah warisan dari jenius Nusantara.Sesuai dengan karakteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau (archipelago), jenius Nusantara juga merefleksikan sifat lautan.Sifat lautan adalah menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungannya.Sifat lautan juga dalam keluasannya, mampu menampung segala keragaman jenis dan ukuran (Latief, 2011). Pancasila sangat dikagumi oleh tokoh-tokoh di luar negeri. Yaman ketika baru saja lepas dari bentuk monarki, para pemimpin muda Yaman menjadikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai pembanding sebelum menentukan dasar negara mereka. Begitu pula Dr. Izzat Mufti, seorang intelektual dan pejabat tinggi Arab Saudi sangat memuji Pancasila.Ia menyatakan, “Pancasila telah menjadi bingkai persatuan bangsa Indonesia. Berbeda dengan bangsa Arab, meskipun mempunyai kesamaan budaya dan bahasa tetapi terkotak-kotak lebih dari 20 negara” (Ali, 2009: xi-xii). Mufti Syria, Syekh Ahmad Kaftaru sangat mengagumi Pancasila. Dalam ceramahnya di Damaskus pada pertengahan 1987, ia menyatakan kagum terhadap Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa penduduk Indonesia berperilaku sangat santun dan bersahaja, murah senyum, memberi hormat kepada orang yang baru dikenal dengan membungkukkan badan, terkenal toleran dan terpancar kesabaran serta tutur bicara yang halus. Ia merasa malu dengan dunia Arab yang tercerai berai dan saling bermusuhan. Seharusnya orang Arab memberi contoh kepada orang ajam (non-Arab), karena telah lebih dahulu mengenal budaya Islam.Namun sayang, di era reformasi, Pancasila yang saya kagumi dipersoalkan oleh sejumlah anak bangsa. Saat terjadi krisis yang mengakibatkan keterpurukan di hampir semua kehidupan, Pancasila dijadikan kambing hitam (Ali, 2009: xiv). Buku ini menguraikan sejak awal Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara, Pancasila di awal kemerdekaan, Pancasila di era Soekarno, Pancasila di era Soeharto, Pancasila di era Reformasi, dan disempurnakan dengan makna Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia. Buku persembahan penerbit PrenadaMediaGroup

Begitu pula Dr. Izzat Mufti, seorang intelektual dan pejabat tinggi Arab Saudi sangat memuji Pancasila.Ia menyatakan, “Pancasila telah menjadi bingkai persatuan bangsa Indonesia.

Kebijakan Fiskal : Teori dan Implikasi

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis dapat menyelesaikan buku yang berjudul Kebijakan Fiskal: Teori dan Implikasi. Buku ini hadir sebagai upaya memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran kebijakan fiskal dalam pembangunan ekonomi nasional, baik dari sisi landasan teoretis, instrumen penerimaan dan pengeluaran, hingga relevansinya dalam konteks globalisasi, desentralisasi, dan pembangunan berkelanjutan. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan yang bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, peneliti, serta para pembuat kebijakan publik yang berupaya menyusun strategi fiskal yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam proses penyusunan, penulis berupaya menghadirkan uraian yang terstruktur mulai dari konsep dasar kebijakan fiskal hingga studi kasus terkini di Indonesia maupun internasional. Buku ini juga memperkaya pembahasan dengan analisis tentang tantangan fiskal di era digital, transisi energi terbarukan, serta dinamika reformasi fiskal di Indonesia. Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa mendatang. Semoga buku ini dapat memberi kontribusi nyata dalam pengembangan literatur ekonomi sekaligus mendukung praktik kebijakan fiskal yang lebih adil dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis dapat menyelesaikan buku yang berjudul Kebijakan Fiskal: Teori dan Implikasi.