Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa

Bahasa Sunda adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang mempunyai perkembangan sastera modern. Jadi tidak hanya sastera klasik saja. Ketika sastera Eropa diperkenalkan di kepulauan Nusantara, melalui sastera Belanda, dengan bentuknya yang sebelumnya tidak dikenal dalam khazanah sastera Nusantara, seperti roman, cerita pendek, drama, esai, kritik dan puisi bebas, maka penulisan bentuk-bentuk itu pun diikuti dalam bahasa Sunda. Mula-mula bentuk roman dan lakon, kemudian cerita pendek dan esai, dan yang paling akhir bentuk puisi bebas yang disebut sajak dan kritik. Penerimaan masyarakat terhadap berbagai bentuk itu bermacam-macam. Terhadap roman dan lakon, begitu juga terhadap cerita pendek, mereka terima dengan baik-baik. Begitu juga esai. Tetapi kritik dan sajak sempat menimbulkan kontroversi. Kritik dianggap tidak sesuai dengan perasaan orang Sunda yang konon halus, sedangkan sajak dianggap sebagai ancaman terhadap kelanggengan bentuk dangding (baik guguritan maupun wawacan) yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk sastera Sunda yang asli. Anggapan yang timbul karena kurangnya pengetahuan tentang sejarah sastera Sunda sendiri itu, akhirnya menghilang dan sekarang sajak telah menjadi salah satu pengucapan sastera Sunda yang cukup signifikan. Sajak telah diterima dengan terbuka dan telah pula menanamkan tradisi dalam bahasa Sunda.

Bahasa Sunda adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang mempunyai perkembangan sastera modern.

Bahasa nusantara

suatu pemetaan awal : gambaran tentang bahasa-bahasa daerah di Indonesia

Mapping of vernacular languages in Indonesia; collection of articles.

Mapping of vernacular languages in Indonesia; collection of articles.

Bahasa Indonesia Bahasa Kita

Akan Diganti Dengan Bahasa Inggris

Suara yang menyatakan kecemasannya terhadap masa depan bahasa Indonesia kian banyak terdengar. Orang mengeluh tentang kemampuan para pelajar dan mahasiswa, bahkan para guru dan para sarjana berbahasa Indonesia yang kian rendah. Orang mengeluh tentang kian banyaknya akronim, sehingga kalimat-kalimat yang dibaca hampir tak dapat dipahami. Orang mengeluh tentang bahasa Indonesia yang tadinya demokratis menjadi kian feodalistis. Orang mengeluh tentang pengaruh bahasa Betawi melalui televisi, radio, filem, dan Iain-lain media massa—mengalahkan kampanye berbahasa dengan "baik dan benar" Pusat Bahasa. Kekurangmampuan itu tidak bisa diatasi hanya dengan kampanye berbahasa Indonesia dengan "baik dan benar" saja. Hal itu merupakan akibat dari pengajaran bahasa selama ini yang tidak mencapai sasaran, baik di rumah maupun di sekolah, begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat. [Pustaka Jaya, Dunia Pustaka Jaya]]

Suara yang menyatakan kecemasannya terhadap masa depan bahasa Indonesia kian banyak terdengar.