Sebanyak 147 item atau buku ditemukan

Kompetensi pedagogik dan profesional guru PAI di Perguruan Muhammadiyah Wara Ambon

perspektif Undang-Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen

On teaching competency and proffesionality of Islamic religion teacher in Perguruan Muhammadiyah Wara Ambon, Indonesia.

On teaching competency and proffesionality of Islamic religion teacher in Perguruan Muhammadiyah Wara Ambon, Indonesia.

KOMPETENSI GURU: Kumpulan Opini Luaran PLP I FKIP Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Hakikatnya, Guru merupakan agen pembelajaran dan bertanggungjawab penuh dalam mendidik, mengarahkan, membimbing, melatih dan mengevaluasi siswa. Berbicara mengenai guru tentu tidak akan ada habisnya. Betapa tidak, tugas dan tanggung jawab yang besar berada dipundak seorang guru.Bisa dikatakan keberhasilan kurikulum dalam satuan pembelajaranpun ada di tangan guru. Di lingkungan sekolah, guru pasti akan berhadapan dengan para siswa yang memiliki karakteristik yang beragam. Untuk mengembangkan kemampuan dan kualifikasinya, guru perlu menguasai empat kompetensi dasar seperti yang telah dicantumkan dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat (1) dimana kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kpribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang semuanya diperoleh melalui pendidikan profesi.

Hakikatnya, Guru merupakan agen pembelajaran dan bertanggungjawab penuh dalam mendidik, mengarahkan, membimbing, melatih dan mengevaluasi siswa.

Kebijakan Pendidikan Muhammadiyah: 1911-1942

Semangat Muhammadiyah untuk mencerahkan semesta sejatinya sejalan dengan mimpi besar sang pendiri, KH Ahmad Dahlan. Hal ini dapat dilihat melalui pidato iftitah yang disampaikan M. Junus Anies dalam “Congres (Muktamar) Muhammadiyah Seperempat Abad” yang berlangsung tanggal 21-26 Juli 1936 di Betawi (Jakarta). M. Junus Anies sebagai Sekretaris Hoofdbestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah saat itu mengutip mimpi besar sang pendiri yang menginginkan persyarikatan ke depannya mampu menjadi “Bapa Doenia”, dan ‘Aisyiyah sebagai “Iboe Doenia”. Dalam bahasa saat ini, KH Ahmad Dahlan ingin Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dapat menjadi ikon gerakan Islam berkemajuan yang berpengaruh di dunia. Upaya untuk mewujudkan mimpi besar tersebut tentu saja tidak mudah. Jalan berliku yang terkadang curam, licin, dan mendaki terus dilewati Muhammadiyah. Kontak langsung para tokoh Muhammadiyah dengan umat Islam di luar negeri juga tidak hanya dapat disaksikan pada saat sekarang. M. Junus Anies dalam pidatonya juga menyebut bahwa intensitas komunikasi tokoh-tokoh Muhammadiyah dengan umat Islam di luar negeri telah semakin menguat setelah KH Ahmad Dahlan wafat (23 Februari 1923). Komunikasi tersebut membuahkan hasil yang cukup gemilang, khususnya pada rentang tahun 1927 hingga 1929. Pada rentang tersebut, banyak umat muslim di beberapa negara yang mengajukan diri untuk bergabung dan mendirikan Muhamadiyah di daerahnya masing-masing. Di antara umat muslim itu, sebagaimana dikemukakan oleh M. Junus Anies, berasal dari Kaapstad (sekarang Ibukota Afrika Selatan), Siam (sekarang Thailand) dan Malaysia, tepatnya di Kuala Lumpur, Selangor, serta Kelang. Niat baik umat muslim itu hanya saja belum dapat dipenuhi, sebab Muhammadiyah saat itu masih fokus menyelesaikan masalah-masalah “di dalam negeri”. Selain masih fokus untuk menyelesaikan urusan internal organisasi, Muhammadiyah saat itu juga sedang berupaya manyadarkan dan memajukan masyarakat agar terlepas dari jeratan penjajah. Penggalan pidato M. Junus Anies di atas merupakan bagian dari narasi yang telah disajikan dalam buku berjudul Kebijakan Pendidikan Muhammadiyah: 1911-1942 ini.

Sistem pendidikan modern yang telah didesain dan dikembangkan Kiai Dahlan (selanjutnya dikenal dengan pendidikan Muhammadiyah)45 pada saat itu berada di antara dua arus besar pendidikan yang berkembang: pendidikan Islam tradisional yang ...

Tokoh-tokoh pemikir paham kebangsaan, Haji Agus Salim dan Muhammad Husni Thamrin

Biography and thoughts on nationalism of Agus Salim, 1884-1954 and Muhamad Husni Thamrin, 1894-1941, Indonesian nationalist.

kapitalisme jangan kita bantu , sedapat- dapatnya kita tolong menghancurkan . Kapitalismelah yang menjadi dasar penjajahan Belanda di sini " . 119 Beliau memberikan alternatifnya yaitu dengan sistem sosialisme Islam , sebagaimana yang ...

Addendum To Muhammad Never Ever Was A Prophet Part Two

Al-Quran Is Gnostic

On the question of originality there can hardly be two opinions now that the Koran has been thoroughly compared with the Christian and Jewish traditions of the time; and it is, besides some original Arabian legends, to those only that the book stands in any close relationship. The matter is for the most part borrowed, but the manner is all the prophet's own. This is emphatically a case in which originality consists not so much in the creation of new materials of thought as in the manner in which existing traditions of various kinds are utilised and freshly blended to suit the special exigencies of the occasion. Biblical reminiscences, Rabbinic legends, Christian traditions mostly drawn from distorted apocryphal sources, and native heathen stories, all first pass through the prophet's fervid mind, and thence issue in strange new forms, tinged with poetry and enthusiasm, and well adapted to enforce his own view of life and duty, to serve as an encouragement to his faithful adherents, and to strike terror into the hearts of his opponents.( Rev.J.M.Rodwell ) So wrote Rodwell in his introduction to his translation of the Quran . I agree and insist that the Al-Quran is part of the gnostic scriptures, not a confirmation nor a continuation of the biblical scriptures .

This is emphatically a case in which originality consists not so much in the creation of new materials of thought as in the manner in which existing traditions of various kinds are utilised and freshly blended to suit the special exigencies ...

Sistem Pengobatan Kedokteran Islami Ajaran Nabi Muhammad Saw Bersumberkan Dari Al-Quran Dan Al-Hadist

Agama Islam mengatur kehidupan manusia dalam berbagai aspek termasuk dalam dunia perawatan dan pengobatan. Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang kepada umat manusia, melalui kekasih-Nya Rasulullah SAW, Allah mengajarkan kepada manusia cara merawat dan memelihara kesehatan. Pengobatan ala Nabi biasa dikenal dengan sebutan Thibun Nabawi sekitar abad ke-13 yang diperkenalkan oleh Syekh Ibnu Qoyyim Al Jauziah didalam kitabnya Zaadul Maad. Thibbun nabawi mengacu terhadap semua perkataan, pengajaran, dan tindakan Rasul SAW yang berkaitan dengan pengobatan atau penyembuhan suatu penyakit.

Agama Islam mengatur kehidupan manusia dalam berbagai aspek termasuk dalam dunia perawatan dan pengobatan.

studi tentang metode pendidikan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW

ABSTRAK Buku ini adalah tesis yang ditulis penulis ketika mengambil master pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah sidoarjo Pendidikan adalah suatu hal yang lazim ada di antara kaum muslimin. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal itu terbukti pada surat pertama yang turun dalam Al-Qur`an dengan kata “iqra’”. Di samping itu agama Islam bertumpu kepada ilmu dan amal secara bersamaan. Karenanya kaum muslimin diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, minimalnya tujuh belas kali dalam sehari semalam. Demikian itu karena dalam surat Al-Fatihah terdapat doa yang berbunyi: “Tunjukkan kami kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat.” Orang-orang yang dimurkai adalah kaum Yahudi. Sebab mereka mempunyai ilmu tetapi tidak mau mengamalkan. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah kaum Nashrani karena suka beribadah tanpa dasar ilmu, sehingga mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan. Maksud dari doa ini agar kaum muslimin senantiasa beribadah berdasarkan ilmu. Berhubung menyampaikan Islam tidak mudah dipahami oleh penerima dengan baik, maka harus ada metode dan teknik agar materi yang disampaikan bisa dipahami dan diterima dengan maksimal. Dalam masyarakat kita banyak kaum muslimin kurang memahami agamanya. Hal itu mungkin karena beberapa pengajar yang kurang menguasai metodenya. Karena itu penelitian ini membahas tentang metode pendidikan Islam pada zaman Nabi SAW. Demikian itu karena tujuannya agar penulis dan kaum muslimin yang bergerak dalam bidang pendidikan mengetahui metode-metode tersebut kemudian mempraktekkannya dalam pengajarannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis studi adalah kajian pustaka karena khusus meneliti metode-metode Nabi SAW ketika mendidik para sahabat. Dan hal itu tidak mungkin diketemukan kecuali pada kitab-kitab turats yang mengumpulkan Hadis-Hadis beliau. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah meneliti langsung pada sumber-sumber penelitian baik dari buku-buku referensi maupun melalui online dengan membuka www.google.com dan situs-situs lainnya. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan dua puluh tiga metode. Di antaranya: 1.Mendidik melalui qudwah hasanah dan akhlak mulia. 2.Mengajarkan syariat Islam secara bertahap. 3.Senantiasa memperhatikan vitalitas dan kesiapan anak didik. 4.Memperhatikan perbedaan standar keilmuan (furuuq fardiyyah) pada anak didik. 5.Mengajar dengan cara dialog dan diskusi. 6.Menggunakan media-media pengajaran (educational aids) yang membantu datangnya pemahaman. 7.Menggunakan kata pengantar sebelum memulai pengajaran. 8.Menggunakan metode Istinbath ketika mengajar. Dan lain sebagainya. DAFTAR ISI PENGESAHAN TESIS. 3 PERNYATAAN KEASLIAN TESIS. 4 PERSETUJUAN PEMBIMBING.. 5 MOTTO.. 6 ABSTRAK.. 7 ABSTRACT.. 8 KATA PENGANTAR.. 9 BAB I. 11 PENDAHULUAN.. 11 A. Latar Belakang Masalah: 11 B. Rumusan Masalah. 19 C. Tujuan Penelitian: 20 D. Kegunaan penelitian: 20 BAB II. 22 KAJIAN PUSTAKA.. 22 A. Pengertian Metode Pendidikan. 22 1. Pendekatan (al-madkhal/approach). 24 2. Teknik/strategi. 24 B. Definisi Pendidikan Islam.. 26 C. Dasar Pendidikan Islam.. 29 D. Tujuan Pendidikan Islam.. 29 E. Landasan Teori Pendidikan. 35 1. Pendekatan Sains. 36 2. Pendekatan Filosofi 37 3. Pendekatan Religi 40 F. Teknologi pendidikan. 43 G. Tinjauan Hasil Penelitian Terkait 46 BAB III. 50 METODE PENELITIAN.. 50 A. Pendekatan dan Jenis penelitian. 50 B. Jenis dan sumber data: 50 C. Metode pengumpulan data: 52 D. Metode Analisis data. 55 BAB IV.. 61 HASIL PENELITIAN.. 61 A. Gambaran umum pendidikan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW... 61 1. Gambaran sekilas tentang pendidikan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW... 71 2. Sedikit gambaran tentang materi pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW 81 B. Metode yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam pendidikan Islam pada waktu itu 146 2.1. Mendidik melalui qudwah hasanah dan akhlak mulia. 146 2.2. Mengajarkan syariat Islam secara bertahap. 149 2.3. Senantiasa memperhatikan vitalitas dan kesiapan anak didik. 150 2.4. Memperhatikan perbedaan standar keilmuan (furuuq fardiyyah) pada anak didik. 151 2.5. Mengajar dengan cara dialog dan diskusi 154 2.6. Menggunakan media-media pengajaran (educational aids) yang membantu datangnya pemahaman 158 2.7. Menggunakan kata pengantar sebelum memulai pengajaran. 162 2.8. Menggunakan metode Istinbath ketika mengajar 163 2.9. Membiasakan para anak didik mengetahui alasan suatu perkara, serta keterkaitannya dengan hukum 164 2.10. Memberikan tasyji` (support) dan pujian kepada anak didik sewaktu mengajar 166 2.11. Mengarahkan anak didik kepada spesialisasi yang sesuai kapasitas dirinya. 168 2.12. Menggabungkan antara ta`lim fardi (personal teaching) dengan ta`lim jama`i (collective teaching) 169 2.13. Menggunakan metode hafalan dan murajaah (evaluasi) 172 2.14. Menggunakan metode tasywiq (stimulation) dan tanwi` (diversification) dalam menyampaikan materi 173

... anak didik disuruh membaca ayat ini : امين الشوك بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كل امن بالله وملتبكي وبير وشيء لا فرق بين أكبر من شلاء قالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربنا وإليك صلے ج المصير ۲۸e “ Rasul telah beriman kepada Al - Quran ...